MUHAMMADIYAH SEBAGAI DASAR PIJAKAN KIPRAH PIMPINAN PUSAT ALUMNI MUHI PERIODE 2017-2021

2017-10-22 12:00:00

MUHAMMADIYAH SEBAGAI DASAR PIJAKAN KIPRAH PIMPINAN PUSAT ALUMNI MUHI PERIODE 2017-2021

 

Disampaikan dalam PRA RAKER PP Alumni SMA Muhammadiyah 1 Yogyakarta

Ahad, 22 Oktober 2017, di Hotel Harper, Jalan Mangkubumi 52 Yogyakarta

Oleh: HM. Syukri Fadholi, SH. (Dewan Pembina PP Alumni SMA Muhammadiyah 1 Yogyakarta)

 

 

I. Mukadimah

 

Pada hakekatnya setiap alumni SMA Muhammadiyah I Yogyakarta, berkedudukan dan berfungsi sebagai kader persyarikatan Muhammadiyah. Karena pada dasarnya setiap alumni Muhi adalah dilahirkan dari rahim pendidikan persyarikatan Muhammadiyah. Oleh karena itu dia berkewajiban membawa dan melaksanakan ideologi Muhammadiyah dalam kehidupan bermasyarakatan dan berbangsa.

Selanjutnya kalau kita mencermati tujuan persyarikatan Muhammadiyah, maka ada dua hal yang sangat penting dan mendasar.

Pertama, lembaga pendidikan persyarikatan Muhammadiyah bertujuan untuk mewujudkan pelajar Muhammadiyah/anak didik Muhammadiyah yang berimtaq dan beriptek serta berakhlak yang mulia.

Kedua,  lembaga pendidikan Muhammadiyah berfungsi dan berperan sebagai lembaga yang berkewajiban untuk mewujudkan setiap alumnus pendidikan Muhammadiyah menjadi kader persyarikatan, kader umat, dan kader bangsa. Oleh karena itu segala bentuk kegiatan dan aktifitas alumni Muhi atau PPA Muhi harus dilandasi dengan semangat untuk melaksanakan ideologi Muhammadiyah yang telah ditegaskan pada MKCH/Matan Keyakinan dan Cita-cita Hidup Muhammadiyah dalam kehidupan masyarakat dan bangsa.

 

II. Ideologi Muhammadiyah

Prinsip dasar ideologi persyarikatan Muhammadiyah telah termaktub di dalam MKCH/Matan Keyakinan dan Cita-cita Hidup Muhammadiyah sebagai berikut :

1. Ideologi Muhammadiyah

Muhammadiyah adalah Gerakan Islam dan Dakwah Amar Ma’ruf Nahi Munkar, beraqidah Islam dan bersumber pada Al-Qur’an dan Sunnah, bercita-cita dan bekerja untuk terwujudnya masyarakat Islam yang sebenar-benarnya, adil, makmur yang diridhai Allah SWT, untuk malaksanakan fungsi dan misi manusia sebagai hamba dan khalifah Allah di muka bumi.

2. Paham Agama menurut Muhammadiyah

Muhammadiyah berkeyakinan bahwa Islam adalah Agama Allah yang diwahyukan kepada Rasul-Nya mulai dari nabi Adam hingga nabi terakhir  yaitu nabi Muhammad Saw, sebagai hidayah dan rahmat Allah kepada umat manusia sepanjang masa, dan menjamin kesejahteraan hidup material dan spritual, duniawi dan ukhrawi.

3. Fungsi dan Peran Muhammadiyah

Muhammadiyah dalam mengamalkan Islam berdasarkan Al-Qur’an dan Sunnah Rasul.

 

Ketika KHA Dahlan mendirikan persyarikatan gerakan dakwah dengan nama “MUHAMMADIYAH” mempunyai makna yang sangat positif dan mendalam bagi setiap muslim di Indonesia.

Secaraetimologis, Muhammadiyah berasal dari kata ”Muhammad” dan “Yah”, kata “Muhammad” berasal dari nama Rasul Allah Muhammad Saw, dan “Yah” bermakna “yang nisbiyah” yang berarti “yang kepada sesuatu atau dinisbahkan untuk diikuti”.

Dengan demikian Muhammadiyah bermakna sebagai pengikut-pengikut Muhammad Rasulullah Saw. Dari pengertian tersebut maka pada hakikatnya setiap orang muslim pasti pengikut “Muhammadiyah” karena ia harus dan berkewajiban mengikuti jejak dan langkah risalah Islam yang dilakukan oleh Nabi Muhammad saw. 

Secara terminologi, bahwa menurut KHA Dahlan Muhammadiyah merupakan persyarikatan dan gerakan dakwah yang bersumber kepada Al-Qur’an dan Sunnah Rasul. 

Berdasarkan pengetahuan dan wawasan keislaman KHA Dahlan memandang, bahwa ajaran Islam sangat mendorong kepada umatnya untuk melakukan amar ma’ruf dan nahi munkar. Usaha untuk mewujudkan keselamatan dan kebahagiaan serta kesejahteraan yang hakiki dunia dan akhirat, tidak dapat dilaksanakan secara perseorangan tetapi harus dilakukan secara bersama dalam bentuk “jama’ah” sebagaimana petunjuk Allah SWT dalam Al-Qur’anul karim surat Ali Imron ayat 104.

 

III. Identitas Muhammadiyah 

Sebagai organisasi gerakan dakwah amar ma’ruf dan nahi munkar, maka para pimpinan dan para pengikutnya berkewajiban untuk melaksanakan prinsip ajaran Nabi serta mempunyai identitas diri sebagaimana yang ditegaskan oleh Allah SWT dalam Al-Qur’anul karim surat Al-Fath: 29 

 

“Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengan dia adalah keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka. Kamu lihat mereka ruku´ dan sujud mencari karunia Allah dan keridhaan-Nya, tanda-tanda mereka tampak pada muka mereka dari bekas sujud”.

 

Identitas dan Karakter Pengikut Muhammad SAW (Alumnus Muhi):

1. Asyida’u ‘alal kuffar

Bersikap tegas kepada segala sesuatu yang kafir/kufar, bersikap teguh pendirian dan tidak berkompromi dengan segala perbuatan kezaliman, kemungkaran, dan kemaksiatan. (Kepekaan Moral).

2. Ruchama’u bainahum

Mempunyai sikap berkasih sayang dengan sesama umat, mempunyai kepedulian sosial kemanusiaan dan ekonomi. (Kepekaan Sosial).

3. Rukka’an sujjada

Selalu melakukan ruku’ dan sujud secara bersama, membangun ukhuwah Islamiyah dan nilai kebersamaan sesama umat. (Ukhuwah Islamiyah dan Imaniyah).

4. Yabtaghu fadhlam minallahi wa ridlwaana

Mempunyai sikap dan karakter bahwa segala sesuatu yang dilakukan hanya diniati dan disandarkan semata-mata untuk mencari karunia dan ridha Allah dalam kehidupan. (Iman, Amanah dan Ihsan).

5. Simaahum fi wujuhihim min atsaris sujud

Di muka dan wajah mereka tampaklah bekas-bekas sujud yang dilakukan, hal ini bermakna bahwa setiap keberadaan para pengikut Muhammad akan tercermin dalam setiap langkah mereka untuk membangun dakwah Islam serta dakwah bil haal. (Wa amanu wa’amilus sholihat).

 

Komentar :